Rabu, 11 Juni 2014

PENDUDUK ANTARA POTENSI DAN PERSOALAN


PENDUDUK ANTARA POTENSI DAN PERSOALAN
(Suatu Tinjauan Pengaruh Pertambahan Penduduk Terhadap Keseimbangan Lingkungan dan Kelestarian Alam)

Oleh; NURUL PRISANTIA HADISIWI*
                                                     
Dua anak cukup bukan hanya slogan, tetapi harus menjadi sikap dan komitmen untuk menuju keluarga bahagia. Juga sekaligus harus merupakan kepedulian terhadap ketahanan pangan dan ekosistem, demi menyelamatkan generasi di masa datang.”

Deskripsi Program
Penduduk merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penduduk merupakan totalitas dari kumpulan keluarga serta sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
Pada penduduk terdapat dua hal utama yang saling membedakan dan menentukan, yaitu Penduduk sebagai potensi dan penduduk sebagai persoalan. Artinya penduduk sebagai potensi manakala dapat menjadi modal dasar/aset, mempunyai daya saing dalam pembangunan, mampu membangun sumber daya dirinya, keluarganya dan masyarakatnya serta yang lain-lainnya yang bersifat positif, bahkan mampu mewujudkan aktualisasi dan jatidiri selaku anggota keluarga, masyarakat dan bangsa atau dengan kata lain penduduk yang berkualitas, sehingga akan nempel pernyataan yang bersifat positif. Sedangkan penduduk menjadi persoalan yaitu manakala penduduk hanya menjadi beban pembangunan, beban bagi keluarganya/ masyarakatnya, bangsa dan Negara, sehingga berbagai lebel negatif pun nempel pada dirinya, atau dengan istilah lain adalah tidak berkualitas.
Salah satu pihak yang turut terkena himbas dari keberadaan penduduk adalah Badan atau lembaga yang mengelola program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, dengan segala keragaman nomenklatur di daerah serta BKKBN untuk di tingkat pusat dan provinsi.
Secara umum kependudukan terdiri atas dua bagian yaitu kuantitas dan kualitas. Aspek kuantitas akan diwarnai dengan aspek jumlah, dampak dan upaya. Jumlah meliputi angka absolut, sedangkan dampak adalah masalah yang ditimbulkan dari akibat jumlah penduduk, adapun upaya merupakan bentuk penanggulangan untuk mengatasi masalah yang diakibatkan dari jumlah penduduk, misalnya dengan program KB, pembatasan tunjangan keluarga dan sebagainya. Sedangkan aspek kualitas terkait dengan hal mutu kehidupan dan kemampuan SDM yang meliputi kesehatan, pendidikan dan ekonomi/daya beli, atau dikenal dengan IPM (Indek Pembangunan Manusia atau Human Development Index).
Menurut BPS bahwa proyeksi penduduk pada tahun 2014 di Indonesia akan terdapat balita dan anak 0-9 tahun mencapai 47,2 juta, remaja 10-24 tahun 65,7 juta dan lansia (60 th ke atas berjumlah 20,8 juta jiwa). Sedangkan menurut Kepala BKKBN Prof. dr. Fasli Jalal, PhD.,SpGK. menunjukkan bahwa Indonesia mengalami triple burden (tiga beban sekaligus) yaitu dimana proporsi jumlah balita, remaja dan lansia lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia produktif, sehingga meningkatkan beban ketergantungan (defedency ratio).

(Ilustrasi jumlah penduduk)

Pelaksanaan program KKBPK (Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga) telah berjalan kurang lebih empat dekade, dan Pemerintah telah berhasil menempatkan program KB sebagai salah satu kebutuhan hidup masyarakat, sehingga sekaligus masyarakat turut tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Hal ini diperkuat dengan Undang Undang No 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, yang ditindaklanjuti dengan  dicantumkannya program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga di dalam Peraturan Presiden No.5 tahun 2010 tentang RPJMN dan dijabarkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Program KKBPK Tahun 2010-2014, bahwa Pembangunan Keluarga Berencana bertujuan mewujudkan keluarga yang mempunyai anak ideal. sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya dalam kondisi penduduk tumbuh seimbang. Saking strategisnya masalah kependudukan, maka pada tanggal 10 Juli dunia kembali memperingati Hari Kependudukan, banyak hal yang telah dilakukan oleh banyak Negara, namun hasilnya belum sebanding dengan upaya mengatasi problematika kependudukan
Namun demikian, gambaran secara riil yang terjadi di lapangan, khususnya sejak  pergantian rezim orde baru ke reformasi kebijakan program KB berubah dan melemah bahkan ada fenomena masyarakat menjadi tidak patuh, belum lagi pada era otonomi daerah nomenklatur program KB sangat berpariatif.
(Keluarga Berencana)

Beberapa Pengertian/Pendapat yang Relevan
Merujuk kepada UU No.52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, bahwa Kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas dan kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial-budaya, agama serta lingkungan tempat tinggal. Adapun KB adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan, sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Selanjutnya Keluarga Berkualitas adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan YME. Keluarga Sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota keluarga dan antara keluarga dan masyarakat serta lingkungan. Daya Tampung Lingkungan adalah kemampuan manusia dan kelompok penduduk yang berbeda-beda untuk hidup bersama-sama sebagai suatu masyarakat secara serasi, selaras, seimbang, rukun, tertib dan aman.
Dari beberapa pengertian tadi, maka patut diapresiasi pula beberapa pendapat yang mendukung dalam program Kependudukan dan KB, antara lain :
Presiden SBY menyatakan bahwa KB adalah program yang sangat penting, karena tujuan dan manfaatnya sangat baik, oleh karenanya program KB harus direvitalisasi. Sedangkan Wakil Presiden Boediono lebih menitikberatkan kepada kewaspadaan terhadap ledakan penduduk karena akan berpotensi menimbulkan masalah baru.  
Sementara Surya Chandra Surapati (Forum Parlemen Indonesia) bahwa pengendalian penduduk melalui KB sebagai upaya penyelamatan generasi yang akan datang, oleh karena itu sudah saatnya memadukan dengan pembangunan berkelanjutan dengan berwawasan kependudukan. Adapun Pembangunan Berkelanjutan yang berwawasan Kependudukan, adalah pembangunan terencana disegala bidang untuk  menciptakan perbandingan ideal antara perkembangan kependudukan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi kemampuan dan kebutuhan generasi mendatang, sehingga menunjang kehidupan bangsa.
            Masih seputar pendapat/dukungan para tokoh/ahli, dari tataran internasional seorang yang bernama Jared Diamond menyatakan bahwa, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali bisa menyebabkan kepunahan umat manusia, karena akan terjadi ecological suicide (ecocide) yaitu bunuh diri dengan merusak lingkungan.
            Satu lagi yang perlu mendapat apresiasi adalah statemen dari Hatta Rajasa pada acara Tatap Mata Trans 7 tanggal 31 Mei 2014 jam 22.30 menyatakan bahwa, dalam pembangunan harus diawali dengan membangun SDM yang berkualitas sebagai modal/asset pembangunan, hal ini mengandung arti adalah pengendalian laju pertumbuhan penduduk ada di dalamnya.

Persoalan yang Dihadapi
Dari sekian banyak persoalan yang dihadapi sebagai akibat penduduk tidak terkendali, diantaranya :
1.  KB pasca otda melemah KB katanya non profit hanya pelengkap asal memenuhi urusan wajib.
2.  Pertumbuhan cepat
3.  IPM rendah (tahun 2012 urutan ke 121 dari 187 negara).
4.  Kemandirian rendah
5.  KB belum jadi komoditas politik (tidak ada demo yang mempersoalkan KB)
6.  Sikap dari komunitas (artis/selebritis), banyak pernyataan bahwa mereka ingin punya anak banyak, belum lagi ketahanan rumah tangganya yang rapuh (kawin-cerai). 
7.  Kemiskinan/kelaparan
8.  Penggundulan hutan
10.Kesesakan pemukiman
(Ilustrasi permasalahan penduduk)

Solusi (Grand Strategi) dan Arah Kebijakan
            Program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga dilakukan melalui pendekatan siklus tumbuh kembang manusia (life cycle approach), melalui langkah :
1.  Penguatan komitmen (political will) dan paradigma program KB
2.  Penggerakan masyarakat
3.  Penataan kembali pengelolaan program KB
4.  Penguatan SDM dan operasional program KB
5.  Penguatan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga
6.  Meningkatkan pembiayaan program KB
           
Solusi lain yang dapat dilakukan dalam program KB adalah dikemas melalui empat program/kebijakan utama yaitu 1. Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), 2. Pengaturan Kelahiran, 3. Pembinaan Ketahanan Keluarga dan 4. Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, termasuk di dalamnya perlindungan perempuan dan anak. Dari keempat program tersebut dioperasionalkan melalui Penggarakan, Pelayanan dan Pembinaan, artinya diawali dengan penggerakan sasaran (potensi yang ada), kemudian pelayanan masyarakat sesuai kebutuhan serta dilakukan pembinaan/pengayoman.
Tidak kalah pentingnya penguatan program (revitalisasi) pada era desentralisasi juga harus dilakukan baik dalam aspek kelembagaan, pendanaan maupun SDM nya, mengingat kondisi otonomi di daerah sangat bervariatif. Khusus kepada oknum para artis/selebritis perlu juga ditanamkan pengertian tentang pentingnya konsep NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia), jangan egois hanya karena punya kemampuan ekonomi yang prima, sehingga ingin punya anak banyak, sementara masyarakat lain patuh melaksanakan KB.

Penutup
Sebelum mengakhiri tulisan ini, sedikit saran dari penulis adalah ada baiknya apabila nomenklatur kelembagaan pengelola program KB di setiap daerah diseragamkan, agar dapat lebih mudah dalam memadukan dan mengoordinasikan kegiatan, disertai peningkatan SDM dan dukungan dana, sarana dan prasarananya. Dengan begitu insya Allah tujuan mulya program KB ke depan akan terwujud melalui konsep keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS).
Demikian yang dapat penulis ungkapkan, sekecil apapun semoga ada hikmah dan manfaatnya. ibarat sebuah telor yang ke luar dari dubur ayam, apabila diberi kekuatan dari dalam, maka akan melahirkan telor-telor yang lain yang manfaatnya akan lebih banyak.
  
 (*Penulis adalah Penggiat Kespro, tinggal di Kuningan
d/a  Perum PURI ASRI I, Jl Rajawali Blok B No.43 RT 43/07
                              Kel. Ciporang, Kec/Kab. Kuningan-Jawa Barat 45514.

                              Tlp. 0232-875477 dan HP 085724325656).-